PERKEMBANGAN TEORI MANAJEMEN

1. ALASAN MEMPELAJARI TEORI MANAJEMEN
Setidak-tidaknya, ada 4 (empat) alasan sederhana dalam mempelajari Teori Manajemen, yaitu :
1. Teori mengarahkkan keputusan Manajemen
2. Teori membentuk pandangan kita mengenai organisasi
3. Teori membuat kita sadar lingkungan usaha
4. Teori merupakan sumber ide baru
2. PERKEMBANGAN TEORI MANAJEMEN
Melihat perkembangan jalannya sejarah, gagasan dari teori teori manajemen, dapatlah kita membagi perkembangan teori manajemen ini (Drs. Amin Wijaya Tunggal, 1993:38) dalam 5(lima) aliran atau mazhab manajemen yang telah mapan yaitu :
1. Aliran Klasik, yang terbagi dua :
o Manajemen Ilmiah (Scientific Management)
o Teori Organisasi Klasik (Classical Organization Theory)
2. Aliran Perilaku (Behavioral School)
3. Aliran Ilmu Manajemen (Management Science)
4. Pendekatan sistem (System Approach)
5. Pendekatan Kontingensi (Contingency Approach)

A. ALIRAN KLASIK
Teori dan prinsip manajemen pada dasarnya sudah ada sejak manusia berusaha untuk mencapai tujuan melalui bekerjasama dalam kelompok. Hal seperti ini dapat dijumpai pada catatan dari orang Mesir, orang Yunani, pengalaman dan administrasi dari Gereja Katolik, organisasi militer dan para komeralis dari abad ke 14 sampai abad ke 18 yang kita sebut dengan manajemen jaman kuno.
Akan tetapi pengembangan teori dan prinsip manajemen baru terjadi pada abad ke 18 dan abad ke 19 yaitu dengan timbulnya Revolusi Industri yang menyebabkan tumbuhnya kebutuhan akan adanya pendekatan yang sistematik terhadap manajemen.
Pelopor-pelopor Manajemen Ilmiah :
a. James Watt Jr & Mathew Robinson Boulton
Pada tahun 1796 mereka mengambil alih perusahaan ayah mereka Soho Engineering Foundry di Inggris. Watt bertugas memimpin organisasi dan administrasi dan Boulton menangani kegiatan perdagangan.Teknik manajerial yang mereka kembangkan adalah penelitian dan peramalan pasar, skema mesin yang direncanakan sesuai dengan tuntutan proses pekerjaan, perencanaan produksi, standar proses produksi, standarisasi komponen komponen produksi. Di bidang personalia mereka me- ngembangkan program pelatihan dan pengembangan karyawan, penelitian kerja dan program kesejahteraan karyawan.
b. Robert Owen (!771-1858)
Dikenal sebagai "Bapak Manajemen Personalia". Selama periode 1800 1828 merupakan manajer dari beberapa pabrik pemin¬talan kapas di New Lanark, Scotlandia. Owen menganggap peran manajer sebagai pembaharu. Dia berpendapat bahwa dengan memperbaiki kondisi pekerja maka produksi dan laba dengan sendirinya akan meningkat. Oleh karena itu Owen meningkatkan kondisi kerja pabrik, menaikkan usia minimum kerja bagi anak anak, mengurangi jam kerja menjadi 10,5 jam (dari 12 jam) bagi karyawan, menyediakan makanan bagi karyawan pabrik, membangun perumahan yang lebih baik bagi para pekerjanya dan membuka toko perusahaan yang menjual keperluan hidup karyawan dengan harga murah.
c. Charles Babbage (1792-1871)
Merupakan seorang profesor matematika di University of Chambrige pada tahun 1828 1834. Sumbangannya pada ilmu manajemen adalah di terbitkannya buku yang terkenal "On Economy of Machinery and Manufactures" pada tahun 1832. Babbage merupakan penganjur awal dari prinsip pembagian kerja, yang percaya bahwa setiap pekerjaan dalam pabrik harus dipecahkan sehingga bermacam macam ketrampilan yang terlibat dapat dipisahkan. Dia menyarankan prinsip pemba¬gian kerja melalui spesialisasi. Setiap tenaga kerja diberi latihan ketrampilan tertentu yang harus dipertanggungjawab¬kan atas pekerjaan tersebut.
A.1. Manajemen Ilmiah (Scientific Management)
a. Frederick Winslow Taylor (1856 1915)
Dikenal sebagai "Bapak Manajemen Ilmiah", mengabdikan hidupnya pada peningkatan efisiensi dalam produksi. Tidak hanya untuk menurunkan biaya dan menaikkan laba tetapi juga untuk memungkinkan penambahan upah bagi para peker¬ja melalui produktivitas mereka yang lebih tinggi.
Taylor menuangkan gagasannya dalam, 3 (tiga) judul bukuNya yaitu Shop Management, The Principle of Scientific Management dan Testimony Before the Special House Com¬mittee yang dirangkum dalam Science Management (New York : Harper & Brothers, 1947). Taylor menjelaskan filsafatnya. Ia berkata bahwa gagasannya itu berdasarkan pada 4 (empat) prinsip :
1. Pengembangan manajemen ilmiah yang sebenarnya sehingga metode yang terbaik untuk melakukan setiap pekerjaan dapat ditentukan.
2. Penyelesainan secara ilmiah terhadap pekerjaan, sehingga setiap pekerja dapat diberi tanggungjawab atas tugas yang paling cocok baginya.
3. Pendidikan dan pengembangan ilmiah untuk para pekerja.
4. Kerjasama yang erat dan bersahabat diantara manajemen dan pekerja.
b. Henry L. Gantt (1861-1919)
Sumbangan yang diberikan Gantt pada manajemen adalah dengan memperkenalkan sistem baru dalam mencatat produktivitas pekerja yang dikenal dengan “Gantt Chart” atau daftar Gantt. Gantt mencatat kemajuan pekerja pada kartu pribadi, dengan warna hitam pada hari pekerja itu memenuhi standar dan warna merah apabila dibawah standar. Hal ini memungkinkan adanya pengawasan manajerial yang lebih baik.
c. Frank B. Gilberth (1868-1924) dan Lilian M. Gilberth (1878-1872)
Merupakan pasangan suami-istri yang memberi sumbangan pada gerakan manajemen ilmiah. Frank, adalah seorang pelopor pengembangan studi gerakan dan waktu. Dalam konsep Gilberth, gerakan dan kelelahan saling berkait, setiap gerakan yang dihilangkan juga menimbulkan kelelahan. Dengan menggunakan kamera film ia berusaha mencari gerakan yang paling menghemat untuk setiap pekerjaan, demikian prestasi meningkat dan mengurangi kelelahan.
Pasangan ini mengembangkan "three position plan" yaitu program pengembangan karyawan dan pendorong semangat. Menurut rencana ini, seorang pekerja harus mengerjakan pekerjaannya saat ini, bersiap siap untuk jabatan lebih tinggi dan melatih penggantinya, yang dikerjakan dalam satu waktu.
Sumbangan
1. Metode-metode manajemen ilmiah telah banyak diterapkan dalam bermacam macam kegiatan organisasi.
2. Suatu tim dari orang orang yang bekerja bersama, dimana masing masing mengerjakan tugas tertentu saja dapat melebihi produksi orang orang yang dalam jumlah yang sama dengan masing masing mengerjakan seluruh pekerjaan itu sendiri sendiri.
3. Teknik teknik efisien manajemen ilmiah seperti studi gerak dan waktu telah menyebabkan kegiatan manajemen menjadi lebih efisien.
4. Rancangan kerja (work design) mendorong para manajer untuk mencari “cara terbaik" dalam pelaksanaan tugas yang menjurus pada manajemen yang profesional.
Kelemahan
1. Kenaikan produktivitas sering tidak diikuti kenaikan pendapatan. Pendekatan “rasional" harus memuaskan kebutuhan kebutuhan ekonomis dan fisik, tapi tidak me¬muaskan kebutuhan sosial karyawan.
2. Pembela-pembela manajemen ilmiah juga mengabaikan keinginan manusia untuk memperoleh kepuasan kerja. Jadi pekerja lebih condong untuk mogok karena kondisi kerja dari pada gaji dan mau berhenti bekerja bila mereka tidak menyenangi pekerjaannya.
A.2. TEORI ORGANISASI KLASIK
a. Henry Fayol (1841 1925)
Dikenal sebagai "Bapak Teori Manajemen Operasional Modern".
Dalam upaya mengembangkan ilmu manajemen, Fayol mulai dengan membagi perusahaan dalam 6 (enam) kegiatannya, masing masing tergantung satu sama lain, yaitu :
1. Teknis, memproduksi dan membuat produk.
2. Komersial, membeli bahan baku dan menjual produk.
3. Keuangan, mencari dan menggunakan modal secara optimum.
4. Keamanan, melindungi para pekerja dan harta perusa¬haan.
5. Akuntansi, mencatat, mengecek biaya, keuntungan, hutang, menyediakan neraca, dan membuat statistik.
6. Manajerial :
o Perencanaan, menentukan suatu cara bertindak yang me- mungkinkan organisasi dapat mencapai tujuan.
o Pengomandoan, memberikan pengarahan kepada para karyawan dan mengupayakan mereka merampungkan tugas-tugas mereka.
o Pengorganisasian, memobilisasi bahan bahan dan sumberdaya manusia yang dimiliki organisasi itu agar rencana rencana dapat terlaksana.
o Pengkoordinasian, memastikan bahwa sumberdaya dan kegiatan kegiatan organisasi berjalan dengan tepat dan serasi mencapai tujuan yang diinginkan.
o Pengendalian, memantau rencana rencana guna memastikan bahwa rencana rencana itu dilaksanakan dengan tepat dan benar.
o Ilmu manajemen merupakan ilmu yang bersifat fleksibel yang dapat terus berubah sesuai dengan waktu dan kondisi karena itu Fayol memberikan
14 prinsip yang dapat dipakai tanpa memperdulikan kondisi kondisi yang berubah-ubah atau kondisi khusus. Prinsip prinsip tersebut sebagai berikut :
1. Pembagian Kerja, makin spesialis seseorang, makin efisienlah ia dalam melaksanakan pekerjaan.
2. Wewenang, manajer harus memberikan perintah agar orang lain dapat bekerja.
3. Disiplin, anggota organisasi harus menghormati aturan dan kesepakatan yang mengatur organisasi tersebut, disiplin merupakan hasil kepemimpinan yang baik disemua tingkatan dalam organisasi, kesepakatan yang adil dan menghukum yang melanggar.
4. Kesatuan Perintah, Setiap karyawan harus menerima instruksi instruksi tentang kegiatan ter¬tentu dari satu orang saja, sebab bila tidak akan terjadi perintah yang bertentangan dan wewenang yang membingungkan.
5. Kesatuan arah, kegiatan-kegiatan dalam organisasi yang mem- punyai tujuan yang sama sedapat mungkin diarahkan oleh seorang manajer dengan menggunakan satu perencanaan saja.
6. Mengemudikan Kepentingan Pribadi di atas Kepentingan Umum, kepentingan karyawan tidak boleh diutamakan melebihi kepentingan organisasi secara keseluruhan.
7. Pemberian upah, Balas jasa atas kerja harus adil baik untuk karyawan maupun perusahaan.
8. Pemusatan, Mengurangi peran bawahan dalam pengambilan keputusan, karena manajer adalah penanggungjawab terakhir.
9. Hierarki, garis wewenang dalam suatu organisasi me- nunjukkan kedudukan manajer dari puncak sampai ke tingkat bawah.
10. Tertib, bahan bahan dan manusia harus ditempat, dan waktu yang tepat, terutama manusianya harus pada pekerjaan yang cocok baginya.
11. Keadilan, para manajer harus bersahabat dan adil pada semua karyawan.
12. Kestabilan staf perputaran karyawan terlalu sering tidak baik untuk kelancaran kegiatan perusahaan.
13. Prakarsa, bawahan harus diberi kebebasan untuk membuat dan menjalankan rencananya sendiri, walaupun bisa saja terjadi kesalahan.
14. Semangat Korps, menggalakkan semangat kelompok me- nimbulkan rasa bersatu, dan faktor sekecil apapun dapat mengembangkan semangat.
b. Max Weber (1864 1920)
Sumbangan & Kelemahan Teori Organisasi Klasik
Berdasarkan pertimbangan bahwa organisasi berorientasi pada tujuan yang terdiri dari ribuan anggota akan menun¬tut peraturan kegiatan yang dikontrol secara cermat, maka Weber dalam bukunya yang berjudul Theory of Social Economic Organization (New York : Free Press, 1947) mengembangkan suatu teori manajemen birokrasi yang kegiatan dan tujuannya dipikirkan secara rasional dan pembagian kerjanya dinyatakan secara tegas. Weber berupaya sungguh sungguh memperbaiki performans dari organi¬sasi sosial yang penting dengan membuat operasinya model model produktivitas yang dapat di ramalkan.
Sekarang ini salah satu perusahaan yang menggunakan teorinya adalah perusahaan Coca Cola.
Sumbangan
1. Konsep yang menyatakan bahwa ketrampilan manajemen dapat diterapkan pada semua jenis kegiatan.
2. Konsep yang menyatakan beberapa prinsip yang dapat dikenali yang mendasari tingkah laku manajerial yang efek¬tif. Dan prinsip prinsip itu dapat diajarkan tetap berlaku.
3. Membuat manajer waspada dalam masalah masalah yang mendasar yang akan mereka hadapi di dalam setiap organisasi.
Kelemahan
1. Dianggap tidak cocok lagi untuk masa kini, karena teori organisasi klasik ditujukan bagi lingkungan yang stabil dan dapat diduga, sedangkan sekarang lingkungan organisasi makin bergolak.
2. Dikritik strategi teori yang terlalu umum untuk organisasi yang kompleks dewasa ini dan memberi petunjuk sedikit prinsip prinsip mana yang akan dijadikan patokan pada pengambilan keputusan.
PERALIHAN ANTARA TEORI KLASIK DAN HUBUNGAN MANUSIAWI
a. Mary Parker Follet (1868 1933)
Mary menganggap bahwa tidak seorangpun dapat menjadi manusia utuh berdiri sendiri kecuali sebagai anggota suatu kelompok. Dia menyadari adanya perbedaan semu antara manajer dan bawahan (yaitu pemberi dan penerima perintah), dan konflik dapat konstruktif dengan penggunaan proses integrasi di mana orang yang terlibat mencari jalan pemecahannya bersama perbedaan perbedaan di antara mereka.
b. Chester I. Barnard (886 1961)
Berdasarkan pengalamannya sebagai direktur utama perusahaan New Jersey Bell tahun 1927, Barnard menyatakan bahwa manusia berkumpul di dalam organisasi untuk mendapatkan hal hal yang mereka tidak mampu mengerjakannya sendiri tapi dalam mencapai tujuan organisasi, mereka harus memuaskan kebutuhan pribadinya juga. Dalam bukunya The Functions of the Executive (Harvard Univ. Press, 1938) dia menyatakan suatu perusahaan dapat bekerja secara efisien dan tetap hidup kalau tujuan organisasi dan tujuan serta kebutuhan individu yang bekerja pada organisasi itu dijaga seimbang.
B. ALIRAN PERILAKU (BEHAVIORAL)
Muncul karena ketidakpuasan terhadap pendekatan klasik yang tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi produksi dan keharmonisan kerja.
a. Hugo Munsterberg (1863 1916)
Dikenal sebagai "Bapak Psikologi Industri". Sejak tahun 1910 minatnya tertuju pada penerapan psikologi dalam industri, di mana dia melihat pentingnya penerapan ilmu perilaku pada gerakan manajemen ilmiah yang baru. Dalam bukunya yangberjudul Psychology and Industrial Efficien¬cy yang diterbitkan tahun 1921, berisi :
1. Best possible person, yaitu bagaimana mendapatkan orang orang yang memiliki kualitas mental yang paling cocok dengan pekerjaan yang harus mereka kerjakan.
2. Best Possible Work, yaitu dalam kondisi psikologis mana output yang paling besar dan paling memuaskan dapat diperoleh dari pekerjaan setiap orang.
3. Best Possible Effect, yaitu bagaimana suatu perusahaan dapat mempengaruhi para pekerja sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh hasil yang sebaik mungkin dari mereka.

b. Eksperimen Hawthorne dan Elton Mayo (1880 1949)
Penelitian yang dilakukan mengenai tingkah laku manusia dalam situasi kerja pada perusahaan Western Electric (1924-1933). Penelitian berawal dari penyelidikan hubun¬gan tingkat penerangan di dalam tempat bekerja dan produktivitas para pekerja. Hasilnya, ketika kondisi cahaya meningkat maka produktivitas cenderung meningkat seperti yang diharapkan, namun ketika cahaya lampu lebih jelek dari normal produktivitas cenderung tetap meningkat. Outputpun terus meningkat pada saat pencahayaan terus dirubah.
Elton Mayo beserta para asisten risetnya Fritz J. Roethlishberger serta William J. Dickson juga menyimpulkan bahwa insentif uang yang diberikan tidak menyebabkan meningkatnya produktivitas.
Hasil penelitian yang terkenal dengan "effect Hawthorne" menyatakan bahwa pengoperasian perusahaan bukan hanya karena mesin dan metode, tapi juga penyesuaian dengan sistem sosial guna membangun suatu sistem teknis yang lengkap. Supervisor yang simpatik akan meningkatkan prestasi kerja mereka dan para pekerja akan lebih keras bekerja bila mereka yakin bahwa manajemen memikirkan kesejahteraan mereka dan perhatian khusus pada mereka.

SUMBANGAN DAN KELEMAHAN AN PENDEKATAN ALIRAN PERILAKU
Sumbangan
1. Terpacu oleh percobaan Hawthorne yang menyatakan sikap kepada para pekerja mungkin lebih penting artinya daripada waktu istirahat, penerangan atau uang dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas menghasilkan banyak tulisan oleh ilmuan-ilmuan perilaku.
2. Para ahli sosiologi (seperti Bakke, Selznick, Homans, Dubin, Katz dan Kohn) memberikan kontribusi tentang pemahaman bagan organisasi melalui pekerjaan mereka pada kelompok-kelompok, pola pola kebudayaan, kepaduan kelompok dan kerjasama.
3. Para peneliti menyoroti pentingnya gaya manajer dan merombak pelatihan manajemen dan mengajarkan ketrampilan manajemen bukan ketrampilan teknis.
Kelemahan
1. Konsep “manusia sosial" tidak secara utuh menggambarkan produkstivitas individu di tempat kerja.
2. Lingkungan sosial hanya merupakan salah satu faktor yang berinteraksi yang mempengaruhi produktivitas.
Walaupun kepuasan kerja dapat memperkecil kemungkinan karyawan untuk berhenti atau beralih tugas, namun kepuasan sulit untuk diukur, karena kepuasan kerja merupakan reaksi emosional terhadap pekerjaan seseorang.
C. ALIRAN ILMU MANAJEMEN (MANAGEMENT SCIENCE)
Pendekatan ilmu manajemen dalam pemecahan masalah dimulai ketika suatu gabungan tim ahli spesialis (tim riset opera) dan disiplin ilmu bersangkutan (seperti komputer elektronik, transportasi, komunikasi dsb) dikumpulkan untuk menganalisa masalah dan memberikan usul tindakan pemecahannya kepada manajemen. Tim membentuk model matematik untuk membuat simulasi dari masalahnya.
Teknis-teknis ilmu manajemen yang digunakan dalam banyak kegiatan seperti penganggaran modal, manajemen aliran kas (cash flow management), penjadwalan produksi, pengembangan strategi produk, perencanaan program pengembangan sumber daya manusia, penjagaan tingkat persediaan yang optimal, dsb.
Langkah langkah pendekatan yang diambil adalah :
1. Perumusan masalah;
2. Penyusunan suatu model sistematis;
3. Mendapatkan penyesuaian dari model;
4. Pengujian model dan hasil yang didapat dari model;
5. Penetapan pengawasan atas hasil hasil;
6. Pelaksanaan hasil dalam kegiatan implementasi;
SUMBANGAN DAN KELEMAHAN ALIRAN ILMU MAMAJEMEN
Sumbangan
Teknik teknik ilmu manajemen banyak digunakan dalam kegiatan-kegiatan perencanaan dan pengendalian seperti penganggaran modal, manajemen arus kas, jadwal produksi, pengembangan strategi produk dsb.

Kelemahan
1. Aliran ilmu manajemen belum mencapai tahap di mana dapat digunakan untuk menghadapi masalah masalah manusia dalam perusahaan.
2. Dibidang pengorganisasian, staffing, dan pemimpin organisasi teori yang masih ada masih sangat sederhana.
Konsep yang dimiliki oleh ilmu manajemen sangat rumit sehingga tidak dapat segera dipahami dan diterapkan. Penerapan dan teknis-teknis pengambilan keputusannya harus diulang ulang terus sampai berhasil.

2.2. BERBAGAI PENDEKATAN MANAJERIAL
Menurut Harold Koontz, cyril 0 Donnell dan Heinz Weihrich (1992, hal 63) pendekatan terhadap analisis manajemen dikelompok¬kan dalam kategori berikut :
1. Pendekatan empiris atau kasus;
2. Pendekatan antar pribadi;
3. Pendekatan perilaku kelompok;
4. Pendekatan sistem sosio kooperatif;
5. Pendekatan sistem sosio teknis;
6. Pendekatan teori keputusan;
7. Pendekatan sistem;
8. Pendekatan matematis atau ilmu manajemen;
9. Pendekatan kontingensi (situasional);
10. Pendekatan peran manajemen;
11. Pendekatan operasional;

Ad.1. Pendekatan Empiris atau kasus
Pendekatan ini didasarkan pada keyakinan bahwa melalui studi keberhasilan dan kesalahan para manajer dalam setiap kasus dan upaya mereka me- nanggulangi berbagai kasus.
Ad.2. Pendekatan Perilaku Antar Pribadi
Pendekatan ini memusatkan perhatian pada aspek manusia dari manajemen dan pada kenyakinan bahwa apabila orang orang bekerja sama untuk mencapai sasaran mereka seharusnya saling memahami. Para manajer harus mengetahui sesuatu tentang perencanaan, pengendalian, cara menyusun struktur organisasi yang sesuai untuk menjamin penyesuaian seluruh tugas manajerial. Penelitian menunjukkan bahwa iklim organ¬isasi secara keseluruhan sangat berkaitan dengan upaya memimpin secara efektif.
Ad.3. Pendekatan Perilaku Kelompok
Pendekatan ini terutama lebih menekankan perhatian pada perilaku orang orang dalam kelompok ketimbang pada perilaku individu. Pendekatan akan suatu perusahaan yang terorgani¬sasi sebagai suatu tatanan sosial yang terdiri dari banyak unit sosial, dengan seluruh interaksi sikap, tekanan, dan konflik yang timbul dari latar belakang budaya, telah bermanfaat bagi para ilmuan dan manajer operasional.
Ad.4. Pendekatan Sisten Sosial yang Kooperatif
Pendekatan ini cenderung untuk mengabaikan konsep, prinsip dan teknik teknik yang penting bagi para manajer. Misalnya, Herbert Simon dalam komentarnya tentang teori organisasi pada "American Political Science Review" vol 46, no 4, (1952, hal 1130) pernah mendefinisikan organisasi sebagai “sistem kegiatan yang saling tergantung, yang meliputi setidak-tidaknya beberapa kelompok primer dan biasanya mempunyai corak yang setaraf dengan tingkat kesadaran para peserta, dimana perilaku kegiatan tersebut diarahkan untuk mencapai tujuan umum melalui mengarahan rasional yang sungguh sungguh. Dan konsep ini diperluas untuk diterapkan pada saling keterkaitan atas perilaku kelompok yang bekerja sama terdapat suatu tujuan yang jelas.
Ad.5. Pendekatan Sistem Sosioteknis
Pendekatan ini menyatakan sikap pribadi dan perilaku kelom¬pok dipengaruhi oleh sistem teknis di tempat kerja. Aliran ini memandang bahwa sistem sosial dan sistem teknis harus diserasikan, konsekwensinya hampir seluruh karya aliran ini dipusatkan pada produksi, pengurusan kantor, dan berbagai bidang lain yang cenderung berorientasi pada rekayasa industri.
Ad.6. PendekatanTeori Keputusan
Pendekatan yang didasari oleh keyakinan bahwa, para manajer mengambil keputusan, kita harus memusatkan perhatian pada pengambilan keputusan. Hasilnya menunjukkan bahwa teori keputusan tidak lagi semata mata memusatkan perhatian pada keputusan, tetapi cenderung berubah menjadi pandangan yang lebih luas tentang perusahaan atau aktivitas usaha lainnya sebagai sistem sosial. Aliran pemikiran yang dianut tidak hanya memusatkan perhatian pada proses pengambilan keputusan tetapi juga pada segala sesuatu yang mendahului suatu keputusan dan segala sesuatu yang timbul kemudian.
Ad.7. Pendekatan Sistem
Sistem adalah seperangkat atau sekumpulan hal yang saling berkaitan, atau saling bergantung, sehingga membentuk kesatuan kompleks. Sistem me- mainkan peranan dalam bidang pengelolaan organisasi seperi sistem perencanaan, sistem pengorganisasian, dan sistem pengendalian.
Ad.8. Pendekatan Matematis atau “Ilmu Manajemen”
Ada para teoritis yang terutama memandang pengelolaan/pemanajemenan sebagai latihan dalam proses, konsep, simbol, dan sistematis. Mereka percaya, apabila pengelolaan, pengorganisasian, perencanaan, atau pengambilan keputusan merupakan proses logis, hal ini dapat diungkapkan dalam dan hubungan matematis. Melalui sarana ini, berbagai masalah dapat diungkapkan dalam kaitannya dengan hubungan dasar, dan apabila hendak mencapai tujuan teritentu, model tersebut seringkali dapat dinyatakan dalam hubungannya dengan saran keputusan tentang hal hal yang paling tepat untuk dilakukan.
Ad.9. Pendekatan Kontingensi (Situasional)
Pendekatan ini menekankan fakta bahwa hal hal yang dilakukan para manajer dalam praktek bergantung pada keadaan tertentu. Teori ini tidak hanya memperhitungkan situasi tertentu tetapi juga pengaruh pemecahan tertentu pada pola perilaku suatu perusahaan.
Ad.10. Pendekatan Manajerial
Pada dasarnya, pendekatan ini adalah untuk mengamati apa yang sebetulnya dilakukan dilakukan oleh para manajer dan dari pengamatan itu ditarik kesimpulan apa arti kegiatan manajerial itu.
Mintzberg dalam bukunya Nature of Manajerial Work (NY : Harper & Row, Publishers, inc, 1973) menyimpulkan bahwa para eksekutif tidak melaksanakan penggolongan klasik dari fungsi-fungsi manajerial sebaliknya mereka melakukan berba¬gai kegiatan lain, yaitu :
1. Peran Antarpribadi
o Peran seremonial dan sosial;
o Peran pemimpin;
o Peran penghubung;
2. Peran Informasional
o Peran penerima informasi;
o Peran penyebar informasi;
o Peran jurubicara;
3. Peran Sehubungan dengan Keputusan
o Peran kewiraswastaan;
o Peran dalam menangani gangguan;
o Peran alokasi sumber;
o Peran negosiasi (kepda berbagai kalangan);

Ad.11. Pendekatan Operasional
Pendekatan ini mengakui bahwa hal hal seperti karyawan dan staf, departementasi, pembatasan manajemen, penilaian manajerial, dan berbagai bentuk pengendalian manajerial mencakup konsep-konsep dan teori yang hanya dapat ditentukan apabila manajer terlibat di dalamnya. Pengetahuan ini teori sistem, teori keputusan, motivasi dan kepimpinan, perilaku individu dan kelompok, sistem sosial, teori kerjasama dan komunikasi, serta penerapan konsep konsep matematis.
Sedangkan menurut Stoner (1992, hal 84 92) menyatakan bahwa positif dari teori manajemen yaitu menuju pada :
1. Pendekatan Sistem;
2. Pendekatan Kontingensi;
Ad.1. Pendekatan Sistem
Pendekatan ini berusaha untuk memandang organisasi sebagai sebuah sistem yang menyatu, dengan maksud tertentu yang terdiri atas bagian bagian yang saling berhubungan. Dan untuk menghubungkan bagian bagiannya dengan organisasi sebagai keseluruhannya, manajer harus berkomunikasi dengan para karyawan serta bagian bagian lain dan juga seringkali dengan wakil wakil dari organisasi lain.
Bagian bagian yang membentuk keseluruhan sistem itu merupakan subsistem yang terdiri dari :
Sinergi, berarti dengan bekfrjasama dan saling berhubungan, bagian bagian yang saling terpisah di dalam suatu organisasi akan menjadi lebih produktif dibandingkan bila mereka bertindak sendiri sendiri.
Sistem Terbuka dan Sistem Tertutup, sistem terbuka adalah apabila organisasi itu berhubungan dengan lingkungan, dan sistem tertutup bila tidak berhubungan. Semua organisasi hubungan dengan lingkungannya walaupun dengan tingkat berbeda beda.
Batas Sistem, merupakan batasan yang memisahkan organisasi lingkungannya.
Arus, suatu sistem memiliki arus informasi, bahan, sinergi, hal ini merupakan barang jadi), dan keluar dariproses transformasi di dalam sistem (bahan baku sistem output.
Umpan balik, merupakan kunci untuk pengendalian sistem, sementara proses dalam sistem berjalan, informasi diumpan¬-balikan pada orang yang tepat atau komputer sehingga pekerjaan dapat dinilai, dan bila perlu diperbaiki.
Ad.2. Pendekatan Kontingensi
Tugas manajer menurut pendekatan ini adalah mengidentifikasikan teknik mana yang dalam situasi tertentu, dalam suasana tertentu, dan pada waktu tertentu akan paling baik menyumbangkan pada pencapaian tujuan organisasi.
Pendekatan ini berusaha menentukan faktor faktor yang sangat penting bagi suatu tugas, dan menjelaskan hubungan fungsional antara faktor faktor yang saling berhubungan.
Sebagai manajer yang mempelajari pendekatan kontingensi, kita tidak boleh hanya menganalisis suatu maslah tertentu tapi juga harus memperhatikan bagaimana suatu penyelesaian masalah itu cocok dengan struktur, sumberdaya dan tujuan organisasi secara keseluruhan. Kita juga harus mempertimbangkan kebutuhan pekerja, masalah lingkungan dsb. Karena pendekatan kontingensi menurut Jay W. Lorsch dan Paul R. Lawrence dalam Studies in Organization Design (Homewood, I11. : Richard D. Irwin/Dorsey, 1970) hal 1 menyatakan bahwa teori kontigensi mengacu pada fakta bahwa proses operasional “Bergantung pada tuntutan tuntutan dari luar dan kebutuhan anggota".






Teori - Teori Pemikiran Manajemen

A. Teori Manajemen Ilmiah / Klasik
Variabel yang diperhatikan dalam manajemen ilmiah :
1. Pentingnya peran manajer
2. Pemanfaatan dan pengangkatan tenaga kerja
3. Tanggung jawab kesejahteraan karyawan
4. Iklim kondusif
Manajemen ilmiah memperhatikan prinsip-prinsip pembagian kerja.
A.1. Robert Owen (1771 - 1858)
Menekankan tentang peranan sumberdaya manusia sebagai kunci keberhasilan perusahaan.
Dilatar-belakangi oleh kondisi dan persyaratan kerja yang tidak memadai, dimana kondisi kerja sebelumnya dan kehidupan pekerja pada masa itu sangat buruk.
A.2. Charles Babbage (1792 - 1871)
Menganjurkan untuk mengadakan pembagian tenaga kerja dalam kaitannya dengan pembagian pekerjaan. Sehingga setiap ekerja dapat dididik dalam suatu keterampilan khusus. Setiap pekerja hanya dituntut tanggungjawab khusus sesuai dengan spesialisasinya.
A.3. Frederick W. Taylor :
Merupakan titik tolak penerapan manajemen secara ilmiah hasil penelitian tentang studi waktu kerja (time & motion studies). Dengan penekanan waktu penyelesaian pekerjaan dapat dikorelasikan dengan upah yang diterima. Metode ini disebut sistem upah differensial.
A.4. Hennry L. Gantt (1861 - 1919) :
Gagasannya mempunyai kesamaan dengan gagasan Taylor, yaitu :
1. Kerjasama saling menguntungkan antara manajer dan karyawan.
2. Mengenal metode seleksi yang tepat.
3. Sistem bonus dan instruksi.
Akan tetapi Hennry menolak sistem upah differensial. Karena hanya berdampak kecil terhadap motivasi kerja.
A.5. Frank B dan Lillian M. Gilbreth (1868 - 1924 dan 1878 - 1972) :
Berdasarkan pada gagasan hasil penelitian tentang hubungan gerakan dan kelelahan dalam pekerjaan. Menurut Frank, antara gerakan dan kelelahan saling berkaitan. Setiap gerakan yang dihilangkan juga menimbulkan kelelahan. Menurut Lillian, dalam pengaturan untuk mencapai gerakan yang efektif dapat mengurangi kelelahan.
A.6. Herrrington Emerson (1853 - 1931) :
Berpendapat bahwa penyakit yang mengganggu sistem manajemen dalam industri adalah adanya pemborosan dan inefisinesi. Oleh karena itu ia menganjurkan:
1. Tujuan jelas
2. Kegiatan logis
3. Staf memadai
4. Disiplin kerja
5. Balas jasa yang adil
6. Laporan terpecaya
7. Urutan instruksi
8. Standar kegiatan
9. Kondisi standar
10. Operasi standar
11. Instruksi standar
12. Balas jasa insentif

B. Teori Organisasi Klasik
B.1. Fayol (1841 - 1925) :
Teori organisasi klasik mengklasifikasikan tugas manajemen yang terdiri atas :
1. Technical ; kegiatan memproduksi produk dan mengoranisirnya.
2. Commercial ; kegiatan membeli bahan dan menjual produk.
3. Financial ; kegiatan pembelanjaan.
4. Security ; kegiatan menjaga keamanan.
5. Accountancy ; kegiatan akuntansi
6. Managerial ; melaksanakan fungsi manajemen yang terdiri atas :
- Planning ; kegiatan perencanaan<>
- Organizing ; kegiatan mengorganiisasikaan
- Coordinating ; kegiatan pengkoorrdinasiian
- Commanding ; kegiatan pengarahann
- Controlling ; kegiatan penngawasaan
Selain hal tersebut diatas, asas-asa umum manajemen menurut Fayol adalah :
- Pembagian kerja
- Asas wewenang dan tanggungjawab
- Disiplin
- Kesatuan perintah
- Kesatuan arah
- Asas kepentingan umum
- Pemberian janji yang wajar
- Pemusatan wewenang
- Rantai berkala
- Asas keteraturan
- Asas keadilan
- Kestabilan masa jabatan
- Inisiatif
- Asas kesatuan
B.2. James D. Mooney :
Menurut James, kaidah yang diperlukan dalam menetapkan organisasi manajemen adalah :
a. Koordinasi
b. Prinsip skala
c. Prinsip fungsional
d. Prinsip staf


C. Teori Hubungan Antar Manusia (1930 - 1950)
Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan psikologis terhadap bawahan, yaitu dengan mengetahui perilaku individu bawahan sebagai suatu kelompok hubungan manusiawi untuk menunjang tingkat produktifitas kerja.
Sehingga ada suatu rekomendasi bagi para manajer bahwa organisasi itu adalah suatu system sosial dan harus memperhatikan kebutuhan sosial dan psikologis karyawan agar produktifitasnya bisa lebih tinggi.

D. Teori Behavioral Science :
D.1. Abraham maslow
Mengembangkan adanya hirarki kebutuhan dalam penjelasannya tentang perilaku manusia dan dinamika proses motivasi.
D.2. Douglas Mc Gregor
Dengan teori X dan teori Y.
D.3. Frederich Herzberg
Menguraikan teori motivasi higienis atau teori dua faktor.
D.4. Robert Blake dan Jane Mouton
Membahas lima gaya kepemimpinan dengan kondisi manajerial.
D.5. Rensis Likert
Menidentifikasikan dan melakukan penelitian secara intensif mengenai empat sistem manajemen.
D.6. Fred Fiedler
Menyarankan pendekatan contingency pada studi kepemimpinan.
D.7. Chris Argyris
Memandang organisasi sebagai sistem sosial atau sistem antar hubungan budaya.
D.8. Edgar Schein
Meneliti dinamika kelompok dalam organisasi.
Teori behavioral science ditandai dengan pandangan baru mengenai perilaku orang per orang, perilaku kelompok sosial dan perilaku organisasi.


E. Teori Aliran Kuantitatif
Memfokuskan keputusan manajemen didasarkan atas perhitungan yang dapat
dipertanggungjawabkan keilmiahannya.
Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ilmu manajemen yang biasa dimulai dengan langkah
sebagai berikut :
1. Merumuskan masalah
2. Menyusun model aritmatik
3. Mendapatkan penyelesaikan dari model
4. Mengkaji model dan hasil model
5. Menetapkan pengawasan atas hasil
6. Mengadkan implementasi
Alat bantu yang sering digunakan dalam metode ini adalah motede statistik dan komputerisasi untuk melihat kemungkinan dan peluang sebaai informasi yang dibutuhkan pihak manajemen



1 komentar:

uii profile mengatakan...

Terimakasih Infonya
sangat bermanfaat..
Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Ekonomi di UII Yogyakarta
:)
twitter : @profiluii

Poskan Komentar

Template by : kendhin x-template.blogspot.com